Perjuangan..
Banyak orang bilang "Hidup itu penuh perjuangan"
Sama seperti yang kudengar kemarin dari bibir seorang gadis kecil.
Aku semakin menyadari bahwa banyak sekali orang-orang yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Aku ... Aku bersyukur, lahir di tengah keluarga yang utuh. Mempunyai kedua orang tua, dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Aku sangat sangat bersyukur mempunyai tempat tinggal yang layak, tempat tinggal dimana kami bisa berbagi, berkumpul, tertawa, bahagia bersama.
Ya , aku dan keluargaku.
Tapi, tidak dengan seorang gadis kecil yang baru kukenal beberapa hari itu.
Aku mengenalnya, dan aku cepat beradaptasi dengannya. Entah kenapa, aku bisa langsung dekat dengannya. Kesehariannya dihabiskan dengan mengamen, menjual koran, dan pekerjaan serabutan lainnya. Dia gadis kecil yang kuat. Hebat lebih tepatnya.
Hari itu dia tersenyum padaku, ia menyambutku. Aku tau dia kecewa. Karena kesibukanku aku tidak bisa mengajar mereka dan teman-temannya seperti sebelumnya. Hatiku bergetar, sedih, heran saat mendengarnya berkata padaku
"Mbak yuli, mei kecewa"
Loh "Kecewa kenapo mei?" jawabku
"Mei, rajin-rajin belajar, mbak yuli dak dateng". MasyaAllah. aku terkejut, terharu, bingung. Bagaimana bisa?
Gadis kecil yang baru kukenal, gadis itu menungguku.
"Mbak yuli kan, mbk nya mei" lanjutnya.
Saat itu, entah apa yang kurasakan. Aku bingung mendeskripsikan perasaanku saat itu.
Aku hanya bisa tesenyum dan menjawabnya
" Kok gitu, kalau mbak dak ado jugo, mei harus tetep rajin belajar. kejar cita-cita mei ya"
Aku mencoba memberinya pengertian dengan kesibukan kuliahku. Dan dia mengangguk mengerti. sampai akhirnya, ia menunjukkan puisi karyanya untuk kubaca.
"Mbak baco puisi mei yo" sambil membuka buku tulis miliknya. Ia membuka lembar demi lembar coretan yang ada dibukunya. sampai ia menemukan apa yang dicarinya. ia mengulurkan buku tulis itu padaku.
"Nah mbak baco". Aku tersenyum lalu mengambilnya untuk kubaca. ia mulai bercerita tentang puisi yang dibuatnya. ia membuat puisi ini saat terbangun dari mimpinya. mimpi dimana ia bertemu ibunya. Aku membaca sambil sesekali melihatnya. Lama kelamaan suaranya mulai bergetar. dan saat itulah aku melihat butiran air itu meluncur deras dari pelupuk matanya. Tersedu. Aku memeluknya. Aku... Aku tidak tahu, aku tidak tahu betapa kerasnya perjuangan gadis kecil ini. Setelah kepergian ibunya. Saat saat itulah perjuangan yang sebenarnya dimulai.
Keluarganya..
ia melanjutkan ceritanya mengenai keluarganya. Aku memberanikan diriku bertanya pada gadis dihadapanku
" jadi, mei sekarang tinggal dengan siapo?" Entah kenapa pertanyaan seperti itu yang meluncur dari mulutku. Yang jelas-jelas akan dijawab pasti dengan ayah lah, kan ayah ada. Tapi, jawaban berbeda lah yang kudengar. Jawaban yang seharusnya sudah ku pastikan dan kuyakini itu, ternyata salah. Dia tidak tinggal bersama ayahnya.
Setelah ibunya meninggal, keluarganya seakan menghilang. Ayahnya pergi merantau begitupun saudara-saudaranya. Hingga saat inipun, bahkan hanya sekedar kabar tidak ia dapati. Untung saja dari semua itu, masih ada satu saudaranya yang mengajaknya tinggal bersmanya. dua kakak laki-laki dan satu kakak perempuannya entah kemana. Tersisa satu kakak perempuannya yang sekarang sudah berkeluarga yang tinggal bersamanya.
"Tinggalnyo diamano-mano mbak." jawabnya sambil sedikit tertawa mencoba menghapus sisa-sisa air matanya. Yang Aku tahu itu tertawa yang dipaksakan.
" dengan ayuk kok mbak" lanjutnya..
"Alhamdulillah, setidaknya bukan dijalanan." kataku dalam hati. Mengingat dia gadis perempuan kecil, lugu dan cantik menurutku.
"Kemaren mei, baru ke makam ibu. Mei baco yasin sam alfatihah mbak untuk ibu." lanjutnya lagi
Aku tersenyum
"Bagus, itulah yang bisa kito lakukan untuk ibu mei. Mendoakan ibu, dan jadi anak yang solehah".
" Mbak jugo berusaha untuk memperbaiki diri mbak mei, kito samo-samo berusaha"
Hari itu, hari dimana kami saling berbagi cerita, hari dimana aku semakin tahu bahwa hidup ini harus dijalani, hari dimana aku semakin merasa bahwa mengeluh bukan hal yang pantas untukku, hari dimana aku semakin belajar dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi, hari dimana aku benar-benar merasa lebih beruntung, hari dimana aku harus semakin mensyukuri semua nikmat-Nya yang tiada terkira untukku.
Hari itu...
Terima kasih adikku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar